Ekonomi

Edukasi Perspektif Manajemen Berbasis Masjid

Minggu, 21 Oktober 2018 23:29:40 | Dibaca: 9133
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Negeri Islam Negeri Sumatera Utara / PENGAMAT EKONOMI SYARIAH

SUNARJI HARAHAP

Medan , Sumatera Utara
Bergabung: 06 Nov 2017
Bagikan:
Masjid, Langgar dan Musholla adalah salah satu bangunan monumental dan lambang kebanggaaan dan semangat beragama bagi umat Islam. Setiap muslim bersemangat bila dimintai bantuan untuk pembangunan tempat ibadah tersebut, motivasinya tidak lain adalah merupakan shadaqah jariyah, dimana pahalanya tidak akan pernah putus selagi tempat ibadah tersebut masih digunakan. Namun amat disayangkan bila fungsi masjid menjadi sempit karena hanya digunakan untuk shalat saja, bila kondisi ini terus dibiarkan maka tempat ibadah akan semakin dijauhi oleh jamaahnya. Karena itu perlunya penataan masjid yang diawali dengan pembentukan takmir masjid, dimana masing-masing bidang dan seksi agar melaksanakan amanat dengan landasan ikhlas, semata-mata mengharap ridha Allah SWT.

Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna tentunya memiliki pemikiran tentang konsep manajemen. Begitu pentingnya bidang manajemen dalam hal kehidupan ekonomi maka Islam telah menetapkan bagaimana proses manajemen yang sebenarnya, karena banyak orang beranggapan bahwa pemikiran sempit tentang arti sebenarnya dari manajemen.

Istilah Manajemen yang terdapat dalam bahasa arabnya yakni Idarah adalah pengelolaan, sedangkan Idarah dalam pengertian umum adalah segala usaha, tindakan dan kegiatan manusia yang berhubungan dengan perencanan dan pengendalian segala sesuatu secara tepat guna.

 

Asal penemuan ilmu manajemen itu bermula dari timbulnya berbagai macam persoalan yang berhubungan dengan bisnis sehingga berkembang menjadi sebuah ilmu untuk mencapai berbagai macam tujuan.

Dalam pandangan Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Hal ini merupakan prinsip utama dalam ajaran Islam. Rasulullah. Bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani, Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan secara itqan (tepat waktu, terarah, jelas dan tuntas). Arah pekerjaan yang jelas, landasan yang mantap, dan cara mendapatkannya yang transparan merupakan amal perbuatan yang dicintai oleh Allah. Sebenarnya, manajemen dalam arti mengatur segala sesuatu agar dilakukan dengan baik, cepat, dan tuntas merupakan hal yang disyariatkan dalam ajaran Islam.

fungsi manajemen terikat dengan hukum-hukum syara (syariat Islam). Fungsi manajemen sebagaimana kita ketahui ada empat yang utama, yaitu: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pergerakan/pengarahan (actuating), dan pengawasan (controlling) sesuai dengan syariat islam. Oleh karena itu, aplikasi manajemen organisasi perusahaan hakikatnya adalah juga amal perbuatan SDM organisasi perusahaan yang bersangkutan.

Embrio pendidikan dalam perspektif manajemen Islam adalah Masjid. Manajemen yang berbasis masjid adalah manajemen yang dijiwai oleh nilai dan semangat spiritual, semangat berjamaah, semangat ihlas lillahi taala (ihlas karena Allah) dan semangat memberi yang hanya berharap pada ridha Allah SWT. Proses pembelajaran yang integratif dengan masjid memberikan nuansa religius yang kental dalam penanaman nilai-nilai religius maupun praktek langsung pengalaman beragama. Dimulai dari pembiasaan shalat sunah, shalat dzuhur berjamaah dan  shalat ashar berjamaah bagi yang  full day school.

Sampai saat ini pun, sebagian besar institusi pendidikan Islam itu mempunyai masjid atau mushalah yang menjadi pusat kegiatan spiritual pelajar maupun pengajar. Kata kuncinya menjadi bagaimana mengaplikasikan konsep manajemen masjid kepada institusi pendidikan Islam.

 

visi dan nilai manajemen ideal yang bersumber dari praktik-praktik manajemen  Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, sangat perlu dan harus terus digali, disebarkan dan ditradisikan agar menjadi isu kuat dalam mencerahkan paradigma umat termasuk dalam hal berpolitik dalam kancah suksesi kepemimpinannya. Oleh karena itu, manajemen yang baik sangat mutlak dibutuhkan oleh umat, dan tentunya pemimpin masa depan yang diharapkan tampil adalah pemimpin yang memiliki sifat-sifat atau karakter terpuji, yakni yang berpihak pada kebenaran, keadilan, memiliki sifat amanah, jujur, keteladanan, kesederhanaan, kebesaran jiwa, pemaaf, dan lain-lainnya yang mementingkan kemaslahatan bagi umat manusia. Karenanya, pemimpin membutuhkan arahan (taujih) dan latihan sejak dini, bisa didapatkan dari orang tua, guru, keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

 

Salah satu model manajemen perspektif Islam adalah manajemen berbasis masjid, yang mana masjid adalah tempat bersatunya umat lslam dalam pelaksanaan peribadahan, baik ibadah secara vertikal kepada Allah SWT (hablum minallah) maupun ibadah yang terkait dengan sesama manusia atau yang disebut (hablum minannas). Karena itu, umat Islam wajib memakmurkan masjid, karena masjid merupakan tempat peribadatan, sarana pembinaan umat dan juga menjadi media efektif dalam mempersatukan umat Islam. Orang yang memakmurkan masjid itu adalah orang yang jelas terbukti keimanannya, dan ia hanya takut kepada Allah dan takut ancaman neraka-Nya. Allah SWT berfirman Alqur'an surat At-Taubah ayat 18; Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At Taubah: l8).

Ada beberapa sifat yang harus dimiliki seseorang dalam manajemen berbasis masjid adalah:

  1. Berpengetahuan luas, kreatif, inisiatif, peka, lapang dada, dan selalu tanggap dalam hal apapun (Al Mujadilah: 11).
  2. Bertindak adil, jujur dan konsekuen (An Nisa: 58).
  3. Bertanggung jawab (Al-An'am: 164).
  4. Selektif dalam memilih informasi (Al Hujurat: 6).
  5. Memberikan peringatan (Adz-Dzariyat: 55).
  6. Memberikan petunjuk dan pengarahan ( QS As-Sajdah: 24 ).

 

Masjid merupakan kebutuhan spiritual untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Masjid menjadi tambatan hati, pelabuhan pengembangan hidup dan energi kehidupan umat Islam. Secara khusus, masjid merupakan tempat dilangsungkannya ibadah shalat. Di sanalah tempat perjumpaan orang-orang yang patuh dan tunduk kepada aturan Allah SWT. Ia merupakan taman keimanan dan pahala,seperti yang telah dikatakan oleh Rasulullah SAW, Apabila kalian melihat seseorang yang terbiasa (memakmurkan) Masjid maka saksikanlah bahwasanya ia beriman. (HR. Ahmad dan At Tirmidzi).

 

Sejalan dengan fungsi masjid bahwa dalam masa keemasan Islam yang pertama, pemuda-pemuda dan orang-orang yang telah berumur bersama-sama duduk di masjid untuk mengikuti pendidikan, yakni pelajaran-pelajaran yang diberikan, dan di antara mereka yang telah menjadi siswa di masjid adalah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah Ibn Abbas. Selain sebagai tempat shalat, masjid juga memiliki fungsi-fungsi lain diantaranya bermusyawarah, baik secara formal terarah, maupun secara spontan antara individu dengan individu, atau antar kelompok. Berbagai pendidikan juga terselenggara di masjid. Sebagaimana pula yang pernah terjadi di masa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallama ataupun 3 di masa sesudahnya, masjid menjadi pusat kegiatan kaum muslimin. Kegiatan di bidang pengetahuan, termasuk idiologi, politik, ekonomi, sosial, peradilan, dan kemiliteran didiskusikan di masjid, berfungsi pula sebagai tempat pengembangan kebudayaan Islam, terutama pada saat gedung-gedung khusus untuk kegiatan itu belum sempat didirikan. Masjid juga merupakan tempat halaqah atau diskusi, tempat mengkaji untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Dalam arti lain, bahwa masjid berfungsi sebagai sebuah manajemen yang sangat baik.

Secara empiris, tidak sedikit orang yang memberikan testimoni bahwa dengan sholat yang baik , khusu' dan mengikuti tata cara yang dibenarkan) banyak manfaat yang mereka alami dan rasakan. Manfaat itu bukan hanya dalam perspektif individu, namun juga perspektif organisasi dan manajemen secara lebih luas dalam kehidupan. Apalagi jika dikerjakan secara berjamaah, sebagaimana terdapat dalam Hadits Riwayat Muslim Shalat berjama'ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.

Dalam persefektif implementasi manajemen ISO, kita mengenal adanya tahapan-tahapan prinsip dalam pelaksanaanya. Yang pertama adalah Komitmen manajemen, yang merupakan salah satu dari 7 prinsip dasar ISO yakni Leadership, dan Keterlibatan semua orang . Jika kita merujuk dalam praktek sholat berjamaah, maka pertama adanya kesamaan niat. Imam niat dengan Imaman, dan ma'mum niat dengan ma'muman. Dalam organisasi atau perusahaan, semua hirarki organisasi harus mempunyai niat yang sama, yakni untuk menegakkan kewajiban shalat sebagai bagian dari perintah agama. Jika kita analogikan dalam perusahaan, maka semua sumber daya manusia harus komitmen terhadap aturan yang di tetapkan organisasi.

Dalam konteks implementasi ISO, dikenal dengan kebijakan mutu & sasaran mutu. Yang kesemuanya itu dibungkus dalam komitmen manajemen dan biasanya ada seremenoni khusus untuk menyatakan komitmen tersebut, dimana hadir pimpinan & staff lalu menyatakan niat yang sama dan masing-masing membuktikan komitmennya dalam sebuah tanda tangan dan konsensus bersama. Kesamaan niat itulah yang menjadi perekat organisasi sehingga organisasi atau perusahaan tetap kokoh dan maju.

Selain berkaitan dengan niat, Kegiatan sholat berjama'ah juga berkaitan dengan team-work. Artinya, orang yang biasa sholat berjamaah memiliki kebiasaan hidup mengutamakan kepentingan bersama. Ini juga menyangkut komunikasi untuk kepentingan kelompok yang lebih besar, belajar komunikasi persuasif untuk mengajak orang lain melakukan kegiatan baik secara bersama. Dengan kata lain, orang yang biasa mendirikan sholat berjamaah mampu bekerja dengan baik dalam tim / team-work. Bagaimana itu bisa terjadi? Karena ia terbiasa mengutamakan kepentingan bersama melalui kebiasan sholat berjamaah itu.

Filosofi yang kedua adanya Imam, atau dalam prinsip ISO adanya Leadership. Demikian juga dalam organisasi atau perusahaan, harus ada pemimpin, yang terdiri dari direktur, manager, staff dan sebagainya. Tanpa imam, shalat berjamaah tidak bisa dilaksanakan. Untuk menjadi imam kan tidak gampang, ada syarat-syaratnya. Demikian juga pemimpin organisasi, ada syarat dan tanggung jawabnya.

Adapun yang ketiga, yaitu adanya aturan shalat berjamaah, jika kita merujuk ke 7 dasar prinsip ISO, maka terkait dengan Pendekatan System ke Management. Dalam shalat berjamaah, ada aturan dan tata caranya sehingga berjalan tertib dan sah. Bahkan, ketika imam keliru ada mekanisme untuk memperingatkannya, tanpa harus merusak jalannya shalat berjamaah. Dalam Organisasi ada Manual Mutu, SOP-nya, ada peraturan organisasi dan sebagainya.

Dengan adanya edukasi manajemen berbasis masjid diharapkan lahirnya calon-calon pemimpin Islam di masa yang akan datang, sebagaimana yang dibuktikan (diterapkan) Rasulullah SAW dengan membina para sahabatnya sehingga menjadi generasi terbaik dan mampu memimpin umatnya melalui pola pembinaan-pembinaan yang beliau pusatkan di masjid.

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen  Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan Pengamat Ekonomi Syariah

Beri Nilai:

Nilai: 0

Komentar: 0

Anda harus login terlebih dahulu untuk memberi komentar
Tentang Kami Syarat dan Ketentuan