Ekonomi

Optimalisasi Peran Teknologi Informasi bagi Industri Halal dan Keuangan Syariah untuk Memenuhi Kebutuhan Konsumen

Sabtu, 16 November 2019 13:38:39 | Dibaca: 380
Penulis Mendunia / Pemerhati Ekonomi Syariah / Pengamat Ekonomi Milenial

SUNARJI HARAHAP

Medan , Sumatera Utara
Bergabung: 06 Nov 2017
Bagikan:

Indonesia akan menjadi role model dunia industri halal. Bangsa Besar adalah bangsa yang bisa menangkap peluang dan tanda zaman serta berpikir jauh ke depan, industri halal tidak sekedar kebutuhan umat Islam, melainkan sudah menjadi trend  global, yang bersifat universal yang tidak hanya booming di masyarakat muslim saja, tetapi sudah menjadi urusan banyak kalangan.

Indonesia memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan melalui industri halal. Selain sebagai negara yang penduduk nya hampir 85% seluruhnya muslim tentunya menjadi hal yang sangat memungkinkan bagi indonesia menjadi negara dengan penguasa industri halal di kancah internasional. Indonesia tidak hanya memiliki potensi alam yang bisa dimanfaatkan akan tetapi banyak sekali hal atau aspek yang perlu untuk dikembangkan salah satunya adalah industri halal. 

Potensi industri halal di kancah internasional sangatlah besar. Saat ini banyak sekali negara-negara di dunia ini tidak hanya negara muslim melainkan negara non muslim berlomba-lomba mengembangkan potensi industri halal melalui bisnis syariah. Menurut laporan global islamic economy report2016/2017 nilai belanja makanan dan gaya hidup (food and lifestyle sector expenditure)muslim di sektor halal dunia mencapai US$ 1,9 triliun pada tahun 2015 dan diperkirakan akan naik menjadi US$ 3 triliun pada tahun 2021.

Berdasarkan laporan dari global islamic economy report tersebut tentunya hal ini menjadi bahan pertimbangan khusus bagi pemegang kebijakan tertinggi yakni pemerintah untuk bisa lebih membuat kebijakan yang terencana, terstruktur dan tersistem dengan baik. Sehingga nantinya kebijakan tersebut dapat berpengaruh terhadap perkembangan industri halal di indonesia dan dapat menjadi kuat di kancah internasional. 

Kurangnya dukungan penguatan yang penuh dari pemerintah yang menyebabkan indonesia masih jauh tertinggal dari negara tetangga Malaysia yang sudah sejak tahun 2006 mengembangkan dan membuat desain perencanaan yang matang mengenai industri halal di negaranya. Hal ini berdasarkan laporan  global islamic economy report tahun 2016/2017indonesia masih menempati posisi ke 10 jauh tertinggal dari negara Malaysia yang berada di posisi pertama.

Di lain sisi memang perlu diapresiasi dukungan pemerintah sangat aktif terhadap pengelolaan wisata halal di indonesia, namun hal itu kurang adanya dukungan di sektor industri lainnya seperti sektor keuangan islam, dan halal pharmaceuticals. Di sektor lain yang patut di apresiasi adalah sektor halal Food, halal cosmetics, dan halal travel.Di sektor halal food indonesia sudah maju dan berkembang lewat lembaga badan sertifikasi halal atau MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang dimana banyak perusahaan asing barang dagangan nya yang akan masuk ke indonesia harus bersertifikasi halal terlebih dahulu sebelum dipasarkan. 

Selanjutnya pada sektor halal cosmetics indonesia memiliki wardah cosmetics yang mampu menembus pasar global. Di sektor halal travel indonesia sudah memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan industri wisata halal di indonesia lewat kementerian pariwisata. Hal ini tentunya ada dua sisi yang berbeda yang harus diperhatikan oleh pemerintah. dengan melakukan langkah yang tepat dengan pengembangan industri halal yang masif tidak menutup kemungkinan indonesia bisa menyaingi malaysia dalam pengelolaan industri halal di kancah internasional.

Seperti yang tadi disebutkan selain di sektor kosmetik yang bisa menembus pasar global  ternyata ada beberapa hal pencapaian yang telah dicapai oleh indonesia dalam pengelolaan industri halal diantaranya adalah  pada acara Taiwan International Halal Expo tahun 2016 produk halal indonesia dapat bersaing dengan produk luar lainya. Permintaan produk halal semakin meningkat dan pemerintah terus berkomitmen memperluas produk halal yang kompetitif di dunia.

Selanjutnya pada sektor wisata halal indonesia kini kian mengguncang di kancah internasional, Indonesia kembali menorehkan prestasi sebagai winner di level internasional dengan diraihnya peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal terbaik didunia versi GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019, yang diumumkan oleh CrescentRating � Mastercard. Tahun 2019 akhirnya Indonesia menduduki peringkat pertama wisata halal dunia versi GMTI 2019, bersanding dengan Malaysia. Indonesia patut berbangga karena akhirnya mampu menduduki peringkat pertama wisata halal dunia, bersanding dengan Malaysia, dengan total skor 78. Selain Indonesia dan Malaysia, urutan ranking wisata halal dunia versi GMTI diraih oleh Turki di posisi ketiga (skor 75), Arab Saudi di posisi keempat (skor 72), serta Uni Emirat Arab di posisi kelima (skor 71). Negara lain yang masuk dalam top 10 wisata halal dunia lainnya antara lain Qatar (skor 68), Maroko (skor 67), Bahrain (skor 66), Oman (skor 66), dan Brunei Darussalam (skor 65).

Wisata halal akan menjadi pilihan hidup masyarakat dunia dan mendominasi perdagangan bebas. Iklim wisata global akan dipengaruhi dengan kuat oleh negara-negara yang mampu menguasai bisnis pangan dunia. Kompetisi perdagangan bebas menekankan pada harga dan kualitas. Sebuah teori kunci untuk perdagangan;  yang harus dipahami adalah bahwa pertumbuhan suatu bisnis sering tergantung pada daya saing yang kuat dan  secara bertahap membangun inti dari pelanggan setia yang dapat diperluas dari waktu ke waktu . Terciptanya kedaulatan wisata halal dalam negeri akan menjadi urgensi kemampuan bangsa kita bersaing dalam perdagangan pangan global.

Berdasarkan data Global Muslim Travel Index 2019 pada tahun 2026 diperkirakan angka tersebut akan bertambah lebih besar menjadi 230 juta. Diperkirakan juga, pemasukan dari wisatawan muslim mencapai US$ 300 juta pada ekonomi global. Pada tahun 2019, Indonesia berada di posisi pertama sebagai negara muslim tujuan wisata halal dunia dengan skor 78. Sementara untuk negara non-muslim, Singapura berada di peringkat pertama, disusul Thailand, Inggris, dan Jepang.

Prestasi ini merupakan kabar gembira bagi pegiat pengembangan wisata halal di Indonesia, namun juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Setelah lima tahun fokus pada pengembangan pariwisata halal, Indonesia akhirnya mampu menunjukkan potensinya sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia. Destinasi wisata halal ini dapat dijadikan proyek percontohan ke destinasi lainnya di Indonesia. Wisata halal tidak hanya melulu pada hal agamis melainkan dapat berkaitan erat dengan pertumbuhan industri dan bisnis.  

Potensi yang perlu dikembangkan dan ditingkatkan dalam industri halal indonesia supaya dapat bersaing dengan negara muslim atau non muslim lainnya yaitu wisata halal, halal food, halal pharmaceuticals, dan halal cosmetics. dari beberapa sektor tersebut hal yang harus ditingkatkan lebih lanjut adalah wisata halal yang dimana wisata halal sudah mengalami pertumbuhan yang begitu pesat dan banyak memiliki prestasi yang baik di dunia . 

Hal ini perlu adanya peningkatan dari sektor wisata halal karena di indonesia begitu banyak tempat bersejarah yang islami yang dapat dijadikan wisata halal di indonesia. Misalnya dari bangunan masjid-masjid di indonesia yang banyak memiliki keindahan arsitekturnya. selain itu, indonesia juga memiliki sumber daya alam yang melimpah dan  termasuk negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia, dari segi pemanfaatan sumber kekayaan alam yang dimiliki indonesia di beberapa daerah sekarang sudah ditemukan wisata halal yang tidak kalah keindahan nya dengan wisata-wisata lainnya. 

Dari sekian banyak hal potensi  yang dimiliki oleh indonesia yang belum banyak dimanfaatkan secara maksimal,  maka disini hal yang harus dilakukan demi terwujudnya tujuan indonesia menjadi pelopor utama industri halal di kancah internasional yaitu perlu adanya rancangan sebuah program kerja yang tersusun dan tersistem secara bagus agar industri halal di indonesia menjadi terarah dan jelas bagi perkembangan industri halal indonesia agar bisa lebih bersaing dengan negara-negara lainya. 

 

Hal ini perlu adanya peningkatan dari sektor wisata halal karena di indonesia begitu banyak tempat bersejarah yang islami yang dapat dijadikan wisata halal di indonesia. Misalnya dari bangunan masjid-masjid di indonesia yang banyak memiliki keindahan arsitekturnya. selain itu, indonesia juga memiliki sumber daya alam yang melimpah dan  termasuk negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia, dari segi pemanfaatan sumber kekayaan alam yang dimiliki indonesia di beberapa daerah sekarang sudah ditemukan wisata halal yang tidak kalah keindahan nya dengan wisata-wisata lainya. 

Perkembangan Industri Halal akhir-akhir ini begitu pesat, hal ini di dorong oleh muncul nya kesadaran Muslim untuk menerapkan ajaran serta konsep Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Halal yang dulu nya hanya sekedar hal yang diperbolehkan dalam Islam kini sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup (lifestyle) bagi komunitas Muslim dunia.

Industri Halal sendiri mempunyai 10 sektor dengan kontribusi yang paling besar yaitu financialfood, wisata dan perjalanan, fashion, kosmetik, farmasi, media dan rekreasional, kebugaran, pendidikan dan seni budaya.

            Manusia selalu membutuhkan pangan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan pangan harus selalu tersedia secara cukup, aman, bermutu, dan bergizi. Pangan mempunyai keragaman dari segi harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat, serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinana, dan budaya masyarakat. Unutk mencapai semua itu, perlu diselenggarakan suatu sistem oangan yang mnyediakan perlindungan, baik bagi pihak yang memproduksi maupun yang mengonsumsi. Pemanfaatan pangan atau konsumsi pangan akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan unggul sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan suatu negara. Hal itu dilakukan melalui pemenuhan asupan pangan yang beragam, bergizi seimbang, serta pemenuhan persyaratan keamanan, mutu, dan gizi pangan.

Bagi para pelaku pangan harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap produknya yang disebar-luaskan. Baik itu mengenai gangguan kesehatan maupun kematian orang yang mengoonsumsinya. Masyarakat dihimbau untuk tahu dan mendapatkan segelimat informasi yang jelas mengenai setiap produk pangan yang disajikan sebelum membeli dan mengonsumsi. Informasi tersebut terkait dengan asal, keamanan, mutu, kandungan gizi, dan keterangan lain yang diperlukan. Oleh sebab itu, produk pangan perlu ditetapkan ketentuan mengenai label dan iklan pada pangan itu sendiri sehingga masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar dan akurat. Akses informasi adalah bagian terpenting dalam memenuhi prinsip keterbukaan informasi bagi konsumen yang di dalamnya mengandung makna adanya kepastian hukum sebagaimana tujuan yang digariskan dalam penyelenggaraan perlindungan terhadap konsumen.

Pada saat ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pangan berkembang dengan sangat cepat. Pengolahan produk pangan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan percampuran antara yang halal dan yang haram, baik disengaja maupun tidak. Bentuk suatu hal untuk mengetahui kehalalan dan kesucian suatu pangan diperlukan suatu kajian khusus yang membutuhkan pengetahuan multidisiplin, seperti pengetahuan di bidang pangan, kimia, biokimia, teknik industri, biologi, farmasi, dan pemahaman tentang syariat. Kenyataannya produk pangan yang beredar di masyarakat belum terjamin kehalalannya walau pelaku usaha sudah menyatakan produk yang dipasarkan dinyatakan halal. Perubahan makanan dari halal menjadi tidak halal disebabkan adanya bahan tambahan ari pelbagai zat kimia, atau dari ekstrasi hewan yang tidak halal.

Indonesia adalah negara yang memiliki  penduduk muslim terbesar di dunia yang tentu saja berkepentingan dengan peredaran produk yang aman dan berstandar halal. Sebab secara otomatis kaum muslim menjadi konsumen terbesar (mayoritas) di negeri ini di samping menjadi incaran dan target impor negara-negara lain. Maka itu sepatutnya konsumen dalam negeri mendapatkan perlindungan dalam memperoleh kepastian tentang kehalalan produk pangan yang beredar.

Kedudukan konsumen terhadap pelaku usaha pada umumnya memang sangat lemah. Konsumen menjadi objek dari aktivitas bisnis dari pelaku usaha melalui kiat promosi, iklan dan cara penjualan serta penerapan perjanjian-perjanjian standar yang acapkali secara sengaja merugikan konsumen. Lemahnya posisi konsumen menjadi santapan empuk bagi para pebisnis yang acapkali mengibuli dengan berbohong dengan menyuguhkan produk. Dengan peredaran produk yang cepat disinyalir pebisnis memiliki ruang bebas dalam memberikan produk yang tidak sepatutnya. Oleh karena itu, pemerintahan harus bergerak cepat dan baik agar produk yang disajikan tidak membohongi publik dengan kiat-kiat halal.

Masalah produk berstandar halal seharusnya sudah menjadi bagian integral yang tak terpisahkan dari praktik perdagangan dan perekonomian global yang menuntut adanya standar-standar dan kualitas baku internasional untuk mendapatkan kepercayaan dari konsumen lintas negara. Dengan begitu aliran barang, jasa, modal, ilmu pengetahuan antar negara menjadi makin mudah. Perdagangan internasional berpengaruh besar terhadap perekonomian antar negara tersebut yang dapat menciptakan iklim kondusif yang saling menguntungkan dari perdagangan timbal balik, bahkan lebih efesien dalam memproduksi dan memasarkan barang. Banyak pakar yang menyimpulkan bahwa manfaat perdagangan lintas negara melampaui manfaat persaingan militer dan perluasan wilayah.

Indonesia juga mempunyai banyak hal yang menjadi keunggulan dalam pengembangan Industri Halal lifestyle. Misalnya dari segi pariwisata atau halal tourism, Indonesia mempunyai keindahan alam yang tidak di miliki oleh negara negara lain. Ada banyak tempat di Indonesia yang bisa dijadikan tujuan pariwisata halal berkelas dunia. Baik pariwisata danau, pantai, dan pegunungan, Indonesia mempunyai banyak pilihan, sebut saja Danau Toba di Sumatera Utara. Pantai-pantai di Bali dan Pantai Kepulauan Raja Ampat yang sangat menawan. Kemudian untuk wisata pegunungan ada Gunung Bromo dan Gunung Rinjani. Kita juga mempunyai Pulau Komodo yang menjadi 7 keajaiban dunia dan Candi Borobudur yang sangat ikonik.

Untuk wisata budaya, Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman suku dan budaya nya, dan setiap suku pasti mempuyai kebudayaan dan kearifan lokal masing-masing. Sehingga tidak perlu diragukan lagi mengenai apa yang bisa di tawarkan Indonesia lewat budayanya.

Kemudian untuk wisata kuliner, Indonesia di kenal dengan kelezatan dan keberagaman makanan nya. Banyaknya suku dan budaya di Indonesia menyebabkan setiap daerah mempunyai makanan khas nya masing-masing. Beberapa yang terkenal seperti  Pempek, Gudeg, dan Rendang. Bahkan  Rendang kelezatan nya sudah di akui oleh Dunia. Selanjutnya adalah bagaimana kita memastikan bahan dan proses pembuatan nya benar-benal sesuai syariah dan halal.

Indonesia sendiri saat ini masih berada di peringkat 10 dalam Industri dan pasar halal dunia Peringkat pertama diduduki Malaysia. Peringkat berikutnya berurutan: Emirat Arab, Bahrain, Saudi Arabia, Pakistan, Oman, Kuwait, Qatar, Jordan, dan Indonesia. Padahal dengan sumberdaya yang melimpah baik itu sumberdaya manusia maupun alam harus nya, Indonesia bisa menjadi yang terdepan di dalam Industri Halal dunia dan hal tersebut tidak lah mustahil, tinggal bagaimana keseriusan kita untuk mengoptimalisasi potensi yang ada.

Untuk mengoptimalisasi potensi perkembangan Industri Halal di Indonesia agar bisa bersaing harus di lakukan beberapa strategi yaitu branding bahwa Indonesia adalah Negara pusat halal lifestyle, adanya pengembangan Sumberdaya manusia, dan terakhir pemerintah harus menggandeng para stakeholders untuk bersama-sama mengembangkan Industri Halal. Instansi dan lembaga tersebut yaitu Majelis Ulama Indonesia, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata, Kementerian Keuangan, Kementerian Perencanaan Pembangunan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, perbankan, asuransi, produsen Industri Halal, dan lainnya.

Terakhir, dibutuhkan dukungan dari semua pihak untuk mendorong pengembangan Industri Halal di Indonesia, sehingga di harapkan nantinya Indonesia benar-benar bisa menjadi pusat pengembangan Industri Halal lifestyle dunia, dan bukan tidak mungkin apabila hal ini terwujud Industri Halal akan mengangkat perekonomian Indonesia dan bisa menjadi motor ekonomi nasional.

            Terdapat ada 4 Langkah Strategis dalam Dalam pengembangan industri Halal

Pertama, meningkatkan kerjasama baik sektoral maupun lintas sektoral antara pemerintah, perbankan syariah dan pelaku industri. kerjasama sektor pemerintah utamanya Kementerian Agama (BPJPH) dan Kementerian Perindustrian dengan melakukan pelatihan dan sertifikasi halal. Utamanya, kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta memberikan insentif kepada UMKM untuk mendapatkan sertifikasi halal. Dan biaya menjadi salah satu faktor hambatan UMKM untuk mendapatkan sertifikasi halal, padahal sektor ini penopang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yaitu di angka 60,34%. Data teranyar, mencatat bahwa saat ini hanya ada 37% produk yang telah tersertifikasi halal, dan masih didominasi industri besar yang memiliki kemampuan keuangan memadai. Padahal, Indonesia memegang kunci-kunci penting dalam industri halal. Sistem jaminan halal yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi parameter penentuan sertifikasi halal yang telah diakui dunia, dimana setidaknya memiliki 44 anggota sertifikasi halal dari berbagai belahan dunia.

Kedua, langkah pemasaran agar produk dikenal secara luas dan dapat disalurkan dengan baik. Karenanya, pemanfaatan teknologi informasi pemasaran serta sistem distribusi global menjadi keahlian yang wajib diketahui oleh UMKM khususnya, dan para produsen industri halal di Indonesia.

Ketiga, adanya jaminan pemerintah agar pelaku industri mendapat kemudahan dalam mengakses dana sebagai pembiayaan. Demikian diharapkan, kedepan Indonesia dapat menduduki posisi puncak proses ekonomi produsen dalam industri halal.

Keempat, adanya dukungan dan keinginan politik dari seluruh stakeholders terkait, agar optimalisasi potensi industri makanan halal di Indonesia dapat diwujudkan. Tanpa ada langkah strategi diatas, maka Indonesia tidak akan dapat bertahan dalam pertarungan industri halal dunia dan sangat mungkin akan tenggelam. Investor akan berfikir ulang dengan keadaan politik yang tidak stabil untuk melakukan investasi di sebuah negara, karena hal tersebut akan sangat beresiko dan membuyarkan setiap proyeksi yang dilakukan.

Mengonsumsi pangan yang halal adalah hak dasar setiap muslim. Hal ini bukan saja terkait dengan keyakinan beragama, namun ada dimensi kesehatan, ekonomi dan keamanan. Maka dengan penduduk yang mayoritas muslim, tanpa diminta sudah semestinya negara hadir melindungi warganya dalam pemenuhan hak-hak mendasar warganya. Selaras dengan itu pelaku usaha (produsen) juga sudah seharusnya memberikan perlindungan kepada konsumen. Untuk kepentingan tersebut, maka dituntut peran yang lebih aktif negara dalam pengaturan sistem ekonomi yang dijabarkan dalam strategi yang dilakukan pemerintah/negara dalam menjalankan instrumen perdagangan/bisnis di antaranya melalui regulasi


Menyediakan pangan halal dan aman adalah bisnis yang sangat prospektif, karena dengan label (sertifikasi) halal dapat mengundang pelanggan loyal yang bukan saja diminati oleh muslim tetapi juga masyarakat non muslim. Sebaliknya bagi produsen yang tidak memberikan keterangan halal yang memasarkan produknya di negara seperti Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim, produknya kurang diminati sehingga merugikan pelaku usaha sendiri. Pangan halal bagi muslim itu terbukti berkualitas dan sangat baik untuk kesehatan tubuh manusia. 

Seperti daging yang berasal dari hewan yang halal yang disembelih sesuai dengan ketentuan Islam ternyata lebih sehat untuk dikonsumsi. Adanya sertifikasi-labelisasi halal bukan saja bertujuan memberi ketentraman batin pada umat Islam tetapi juga ketenangan berproduksi bagi pelaku usaha. Apalagi dalam konteks globalisasi ekonomi dan pasar global, sertifikasi-labelisasi halal pangan makin diperlukan.

Oleh karenanya, mengapa industri halal ini memiliki peluang besar untuk ikut bersanding dalam memberikan pangan yang aman, bermutu, bergizi, dan sehat. Industri halal pun sudah banyak diterapkan di negara islam lainnya, dan ada beberapa negara non islam yang telah melaksanakan industri halal ini. Karena industri halal tak hanya diberikan kepada konsumen islam, kepada non islam pun bisa.

Dari sektor finansial sendiri beberapa tahun terakhir perkembangan nya di Indonesia sudah cukup baik. Hal ini di buktikan dengan semakin banyaknya Industri Perbankan dan Keuangan Syariah  yang hadir di tengah-tengah masyarakat, seperti Perbankan Syariah, Asuransi Syariah, Pasar Modal Syariah, Reksadana Syariah, Obligasi Syariah, Pegadaian Syariah, Baitul Mal wat Tamwil (BMT). Sistem ekonomi syariah yang transparan, jujur, adil dan stabil menambah daya tarik masyarakat untuk beralih ke sistem syariah yang halal, bahkan untuk yang bukan beragama Islam sekalipun.

ekonomi keuangan syariah dibutuhkan untuk memperkuat struktur ekonomi dan pasar keuangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini dilandaskan pada potensi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang sangat menjanjikan.

Prospek dan tatanan perkembangan keuangan syariah menunjukkan trend positif dan relatif stabil, namun dibalik perkembangan tersebut ada kekhawatiran bahwa perkembangan keuangan syariah merupakan rangkaian dari eforia reformasi dan dapat memicu adanya immature booming, jika semua itu tanpa didasari kerangka kelembagaan dan pengaturan yang memadai dari aspek best practices. Maka dalam rangka membangun industri keuangan syariah masa depan yang tangguh diperlukan penyempurnaan perangkat ketentuan hukum, mekanisme pembukaan jaringan dan upaya penyebarluasan informasi.



Beri Nilai:

Nilai: 0

Komentar: 0

Anda harus login terlebih dahulu untuk memberi komentar