Ekonomi

WISATA HALAL DAN KEARIFAN LOKAL DANAU TOBA

Sabtu, 14 September 2019 14:21:21 | Dibaca: 342

SUNARJI HARAHAP

Medan , Sumatera Utara
Bergabung: 06 Nov 2017
Bagikan:

Halal kini sudah menjadi trend di dunia dan sifatnya universal. 1/3 populasi dunia adalah Muslim. Islam menjadi salah satu agama terbesar yang paling cepat berkembang di dunia, saat ini mencapai 1,8 Milyar orang. Berbicara tentang halal belakangan ini tidak hanya booming di masyarakat muslim saja, tetapi sudah menjadi urusan banyak kalangan. Banyak negara maju di Asia, Eropa dan Amerika, telah mengkonsentrasikan diri pada bidang halal.

Konsep halal dari perspektif industri dapat ditangkap sebagai suatu peluang bisnis sangat menjanjikan. Hal ini seiring ditetapkan  Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan masuk kategori super prioritas Quick Win. Penataan Danau Toba menjadi wisata halal merupakan isu lagi membooming selama sepekan ini,  kata Wisata Halal tentunya menjadi trend dunia bagi semua kalangan, membangun mindset untuk menaikkan persentase para wisatawan khususnya muslim untuk berkunjung dan berlama lama menikmati keindahan alam danau toba dan kearifan lokal budaya batak tentunya. Berdasarkan data selama ini dapat kita lihat tak lain karena mayoritas wisatawan mancanegara yang datang ke sana adalah dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan sebagian dari Tiongkok.  Saat ini 55 persen wisatawan yang datang berkunjung ke Danau Toba berasal dari Malaysia, berbeda dengan wisata bali yang mayoritas pengunjung nya dari Australia.

Konsep wisata halal danau toba nantinya tidak akan menghilangkan kearifan lokal yang sudah ada sejak dulu di kawasan Danau Toba semua kearifan lokal akan menjadi keunikan dan menjadi daya tarik tersendiri , serta dapat berdampingan nantinya. Konsep tersebut untuk mengambil pasar yang sedang bertumbuh saat ini, yakni wisata halal, dimana pada tahun 2018 saja jumlah wisatawan muslim mancanegara berjumlah 140 juta.

Semua pembenahan fasilitas pendukung pariwisata memang mutlak dibutuhkan, bukan hanya akses jalan mulus dan penerbangan langsung ke tepian Danau Toba, tetapi banyak hal yang harus dilakukan tentunya, wacana wisata halal yang dirilis berbagai media dalam sepekan ini terus menjadi topik hangat nasional,  trend global wisata halal ini berguna menjadi akselerasi menaikkan pamor dan kenyamanan wisata Danau Toba agar mampu menaikkan PAD di lokasi Daerah setempat agar lebih produktif dari sisi pariwisata dan hal ini mengacu pada pemerintah pusat yang menargetkan 1 juta pengunjung.  Perlu kerjasama semua pihak , khususnya pemprov /pemda setempat , dan semua elemen terkait agar dapat memberikan edukasi,  mensosialisasikannya dan mensukseskannya

Konsep wisata halal ini tentunya dalam rangka memberikan kenyamanan bagi para turis yang datang ke Danau Toba, baik dari dalam dan luar negeri, antara lain dengan menyiapkan fasilitas-fasilitas untuk wisatawan muslim dan agama lainnya, misalnya makanan vegetarian dan lain-lain. Kenyamanan buat wisatawan nyaman berkunjung ke Danau Toba menjadi hal utama agar semakin banyak wisatawan yang datang dan berlama-lama di Danau Toba. Karena itu fasilitas yang dibutuhkan para turis harus tersedia. Jika banyak turis yang datang, maka akan semakin banyak pula uang yang berputar dan menggerakkan roda perekonomian di kawasan Danau Toba. Usaha penginapan dan rumah makan akan tumbuh, karena banyak turis yang menginap dan makan. Begitu juga dengan berbagai usaha jasa lainnya yang dikelola masyarakat, akan semakin berkembang. Karena itu, berbagai upaya untuk memajukan pariwisata Danau Toba harus didukung oleh semua pihak, termasuk masyarakat. Selaras dengan program pemerintah pusat yang telah menetapkan Danau Toba menjadi destinasi wisata prioritas dan super prioritas. Tanpa dukungan masyarakat, upaya dan program pemerintah untuk menjadikan Danau Toba menjadi destinasi wisata kelas dunia akan sulit terwujud.

Konsep wisata halal sudah ada sejak lama. Wisata halal yang dimaksud adalah menyediakan fasilitas pendukung yang diperlukan para wisatawan, termasuk wisatawan muslim. Wisata halal bukanlah menghilangkan budaya yang sudah ada di daerah tempat wisata. Banyaknya wisatawan mancanegara yang datang ke Danau Toba. Apalagi saat ini, wisatawan mancanegara yang paling banyak datang adalah yang berasal dari Malaysia dan sekitarnya. Penduduk negara tetangga itu mayoritas muslim. Untuk itu segala keperluan wisatawan tersebut harus disiapkan. Semakin banyak pengunjung tentunya berimbas pada bertambahnya pendapatan dan pemasukan keuntungan bagi masyarakat sekitar Danau Toba

Fasilitias adalah salah satu konsep penting dalam pariwisata, ada 3 elemen penting dalam pariwisata yang dinamakan konsep 3A, yaitu  atraksi, aksebilitas, dan amenitas. Untuk elemen pertama yakni atraksi, katanya, Danau Toba sudah memenuhi syarat. Danau Toba memiliki pemandangan, budaya, dan alam yang luar biasa, Konsep kedua adalah aksesbilitas. Konsep ini berarti Danau Toba harus mudah dicapai. Sarana dan prasarana menuju Danau Toba haruslah memudahkan wisatawan yang akan datang ke sana,saat ini pemerintah sedang membangun jalan tol Tebing Tinggi-Parapat. Tidak hanya itu, bandara Silangit sekarang sedang diperpanjang landasannya guna menampung pesawat yang lebih besar. konsep ketiga adalah Amenitas,Amenitas adalah penyediaan fasilitas pendukung yang diinginkan oleh wisatawan berupa tempat ibadah, rumah makan, tempat peristirahatan dan lain sebagainya. Danau Toba masih perlu dibenahi. Untuk itu, semua keperluan pendukung untuk berbagai masyarakat yang datang harus ada. Karena sangat disayangkan nantinya jika seharusnya para wisatawan ingin nyaman berlama lama tetapi karena kurangnya ketidaknyamananan dari segala fasilitas belum memadai sehingga para wisastawan yang rencananya datang 7 atau 3 hari jadinya cuma 1 hari, atau mungkin bahkan ada yang tidak jadi sama sekali

Membentuk tim percepatan kesuksesan pariwisata Danau Toba seperti penanganan limbah industri dan limbah rumah tangga hingga penataan keramba jaring apung karena keindahan dan kebersihan Danau Toba sangat diperlukan. Indonesia memiliki beragam keindahan alam luar biasa yang tidak dimiliki negara-negara lainnya. Salah satunya, yang bisa Andalan dijadikan destinasi liburan adalah Danau Toba. Danau Toba terletak di pegunungan Bukit Barisan, Sumatera Utara. Luasnya 1.145 kilometer persegi yang menjadikannya danau terluas se-Asia Tenggara dan luasnya lebih besar dari Singapura. Danau Toba juga menjadi danau terluas di dunia yang terbentuk dari erupsi gunung berapi, dan masuk dalam daftar Guinness World Records.

Latar belakang Danau Toba terbentuk karena letusan gunung berapi yang memuntahkan 2.800 km kubik material letusan, sehingga membuat kawah yang lambat laun dipenuhi air menjadi danau.  Di tengah Danau Toba terdapat pulau bernama Samosir. Pulau tersebut sekiranya mendekati luas dari negara Singapura dan memiliki beberapa desa dengan wisata alam luar biasa, seperti pegunungan dan air terjun. Pulau Samosir dan Danau Toba adalah jantung dan kampung halaman dari Suku Batak. Anda juga bisa merasakan keramahan penduduk desa tersebut sekaligus mengetahui kebudayaan mereka.

Wisata halal akan menjadi pilihan hidup masyarakat dunia, karena pada prinsipnya, implementasi kaidah halal itu berarti menyingkirkan hal-hal yang membahayakan bagikemanusiaan dan lingkungannya dalam produk maupun jasa yang diberikan, dan tentu memberikan kebaikan atau kemaslahatan secara umum. Wisata halal merupakan salah satu bidang yang mendominasi perdagangan bebas. Iklim wisata global akan dipengaruhi dengan kuat oleh negara-negara yang mampu menguasai bisnis pangan dunia. Kompetisi perdagangan bebas menekankan pada harga dan kualitas. Sebuah teori kunci untuk perdagangan;  yang harus dipahami adalah bahwa pertumbuhan suatu bisnis sering tergantung pada daya saing yang kuat dan  secara bertahap membangun inti dari pelanggan setia yang dapat diperluas dari waktu ke waktu . Terciptanya kedaulatan wisata halal dalam negeri akan menjadi urgensi kemampuan bangsa kita bersaing dalam perdagangan pangan global.

Berdasarkan data Global Muslim Travel Index 2019 pada tahun 2026 diperkirakan angka tersebut akan bertambah lebih besar menjadi 230 juta. Diperkirakan juga, pemasukan dari wisatawan muslim mencapai US$ 300 juta pada ekonomi global. Pada tahun 2019, Indonesia berada di posisi pertama sebagai negara muslim tujuan wisata halal dunia dengan skor 78. Sementara untuk negara non-muslim, Singapura berada di peringkat pertama, disusul Thailand, Inggris, dan Jepang.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI mencatat, permintaan produk halal dunia mengalami pertumbuhan sebesar 6,9 persen.  Hitungan itu, diperkirakan terus bertambah sejak 2013 dengan total nilai USD1,1 triliun menjadi USD1,6 triliun pada 2018. Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata halal mengingat sebagian besar penduduknya adalah Muslim dan adanya faktor pendukung seperti ketersediaan produk halal. Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, secara alami budayanya telah menjalankan kehidupan bermasyarakat yangIslami, sehingga disebagian besar wilayahnya yang merupakan destinasiwisata telah ramah terhadap Muslim Traveller. Terkait kebutuhan umat muslim dunia, dari 6,8 milyar lebih penduduk dunia, tercatat tidak kurang dari 1,57 milyar atau sekitar 23% adalah muslim. Bahkan di Indonesia, penganut Islam diperkirakan mencapai angka 203 juta jiwa atau sekitar 88,2% dari jumlah penduduk.

Kesadaran memenuhi hak atas pangan halal oleh produsen terus meningkat secara global. Di negeri yang tidak akrab dengan term halal pun, pangan halal kini tidak lagi barang langka. Banyak maskapai kelas dunia menyediakan menu halal. Dikenal dengan sebutan Moslem Meal (MoML) diantaranya maskapai, mulai Japan Airlines, American Airlines, Singapore Airlines, Qantas, Chatay Pacific (Hong Kong), Saudia, Emirates, Qatar Airways, sampai Malaysia Airlines. Dalam penerbangan domestik India dan China pun, tersedia menu halal.
Mengkonsumsi produk halal, ia melanjutkan, adalah hak dasar setiap muslim. Ada dimensi kesehatan dan ekonomi di dalamnya. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, tanpa diminta, seharusnya negara hadir melindungi hak dasar warganya. Hal ini dilakukan supaya pengusaha sadar akan tanggung jawabnya dalam melindungi konsumen.

Indonesia menjadi bangsa pemenang. Di era cultural industry atau creative industry, era setelah agriculture, manufacture, dan information technology versi Alfin Toffler dalan the thirth wave, Indonesia punya potensi menjadi pemenang. Pariwisata termasuk dalam creative industry, karena di pariwisata pun kita bisa jadi pemenang,

Wisata halal merupakan salah satu bidang yang mendominasi perdagangan bebas. Iklim wisata global akan dipengaruhi dengan kuat oleh negara-negara yang mampu menguasai bisnis pangan dunia. Kompetisi perdagangan bebas menekankan pada harga dan kualitas. Sebuah teori kunci untuk perdagangan;  yang harus dipahami adalah bahwa pertumbuhan suatu bisnis sering tergantung pada daya saing yang kuat dan  secara bertahap membangun inti dari pelanggan setia yang dapat diperluas dari waktu ke waktu . Terciptanya kedaulatan wisata halal dalam negeri akan menjadi urgensi kemampuan bangsa kita bersaing dalam perdagangan pangan global

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata halal mengingat sebagian besar penduduknya adalah Muslim dan adanya faktor pendukung seperti ketersediaan produk halal. Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, secara alami budayanya telah menjalankan kehidupan bermasyarakat yangIslami, sehingga disebagian besar wilayahnya yang merupakan destinasi wisata telah ramah terhadap Muslim Traveller. Terkaitkebutuhan umat muslim dunia, dari 6,8 milyar lebih penduduk dunia, tercatat tidak kurang dari 1,57 milyar atau sekitar 23% adalah muslim. Bahkan di Indonesia, penganut Islam diperkirakan mencapai angka 203 juta jiwa atau sekitar 88,2% dari jumlah penduduk.

Hal ini merupakan potensi bagi pengembangan wisata halal, misalnya dengan menciptakan paket-paket wisata halal di destinasi pariwisata Indonesia.Menurut penelitian dari Crescentrating, pengeluaran wisatawan muslim dalam suatu perjalanan wisata sangat tinggi, dapat dibayangkan uang yang dihabiskan wisatawan muslim di dunia pada tahun 2011 mencapai126 milyar dolar AS atau setara Rp 1.222,1 Triliun. Angka ini dua kali lebih besar dari seluruh uang yang dikeluarkan oleh wisatawan Cina yang mencapai 65 miliar dolar AS atau setara Rp 630 Triliun.

Target kita wisatawan dari Timur Tengah, Afrika Selatan, Asia, China, India, danEropa Menurut Dirjen Pemasaran Pariwisata, Esthy Reko Astuti,untuk memenuhi kebutuhan tersebut pemerintah mencoba mengembangkan dan mempromosikan usaha jasa di bidang perhotelan, restoran, biro perjalanan wisata, dan SPA di daerah destinasi wisata halal di Indonesia

Pertumbuhan ekonomi negara-negara muslim relatif signifikan dengan rata-rata pertumbuhan perkapita sekitar 6.8%. populasi umat Islam diperkirakan akan mencapai 2,2 miliar pada 2030, yang mana akan menjadi pusat pasar wisata halal. Industri wisata halal diharapkan menjadi salah satu sektor yang tumbuh stabil di perekonomian global. Sejak beberapa tahun belakangan, bahasan halal sudah tidak menjadi bahasan para muslim saja. Menurut data yang diambil dari Global Halal Data Pool, besarnya industri halal secara global telah mencapai USD 2.3 triliun. Bahkan, angka tersebut belum termasuk nilai pendapatan dari pariwisata halal. Dengan tingkat pertumbuhan tahunan mencapai 20%, industri halal dapat bernilai hingga USD 560 juta setiap tahunnya. Hal tersebut membuat industri halal menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan segmen konsumen terbesar di dunia.

Meningkatnya jumlah populasi muslim dunia menjadi pemicu utama naiknya trend produk halal. Dengan jumlahnya yang semakin meningkat, maka  kebutuhan muslim dunia juga akan ikut meningkat. Melihat respon positif dari dunia, gaya hidup halal menjadi mudah diterapkan di seluruh belahan dunia.

Jika masyarakat sudah teredukasi dan peduli akan pentingnya kehalalan, Indonesia akan menjadi role model dunia halal. Tentunya saat ini Indonesia kembali menorehkan prestasi di level internasional dengan diraihnya peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal dunia versi GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019, yang diumumkan oleh CrescentRating - Mastercard.

Prestasi ini merupakan kabar gembira yang tidak hanya dirasakan oleh Kementerian Pariwisata saja selaku Kementerian yang menangani pengembangan wisata halal di Indonesia, namun juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Setelah lima tahun fokus pada pengembangan pariwisata halal, Indonesia akhirnya mampu menunjukkan potensinya sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia. 

Tahun 2019 akhirnya Indonesia menduduki peringkat pertama wisata halal dunia versi GMTI 2019, bersanding dengan Malaysia. Indonesia patut berbangga karena akhirnya mampu menduduki peringkat pertama wisata halal dunia, bersanding dengan Malaysia, dengan total skor 78. Selain Indonesia dan Malaysia, urutan ranking wisata halal dunia versi GMTI diraih oleh Turki di posisi ketiga (skor 75), Arab Saudi di posisi keempat (skor 72), serta Uni Emirat Arab di posisi kelima (skor 71). Negara lain yang masuk dalam top 10 wisata halal dunia lainnya antara lain Qatar (skor 68), Maroko (skor 67), Bahrain (skor 66), Oman (skor 66), dan Brunei Darussalam (skor 65).

Pengembangan pariwisata halal Indonesia merupakan salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata yang sudah dikerjakan sejak lima tahun yang lalu. Data GMTI 2019 menunjukkan bahwa hingga tahun 2030, jumlah wisatawan muslim (wislim) diproyeksikan akan menembus angka 230 juta di seluruh dunia. Selain itu, pertumbuhan pasar pariwisata halal Indonesia di tahun 2018 mencapai 18%, dengan jumlah wisatawan muslim (wislim) mancanegara yang berkunjung ke destinasi wisata halal prioritas Indonesia mencapai 2,8 juta dengan devisa mencapai lebih dari Rp 40 triliun. Mengacu pada target capaian 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang harus diraih di tahun 2019, Kementerian Pariwisata menargetkan 25% atau setara 5 juta dari 20 juta wisman adalah wisatawan muslim.   

Untuk meriah prestasi baru ini, Indonesia melalui Kementerian Parwisata juga telah rutin melakukan bimbingan teknis (bimtek) serta workshop di 10 destinasi pariwisata halal unggulan. Guna mendorong percepatan pengembangan destinasi pariwisata halal nasional berstandar global, Kementerian Pariwisata menyelenggarakan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) pada tahun 2018 dan 2019. Penilaian IMTI dilakukan langsung oleh CrescentRating-Mastercard yang bekerjasama dengan Indonesia dengan menggunakan empat indikator utama yang telah ditetapkan oleh GMTI yakni: accessibility (aksesibilitas), communication (komunikasi), environment (lingkungan) dan service (layanan). Hasil penilaian dari empat aspek utama tersebut secara otomatis akan menentukan top 5 destinasi wisata halal prioritas Indonesia.

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen  Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara 

Beri Nilai:

Nilai: 0

Komentar: 0

Anda harus login terlebih dahulu untuk memberi komentar
Tentang Kami Syarat dan Ketentuan