Produksi Karet Sumut Turun akibat Jamur Pestalotiosis

Selasa, 22 Oktober 2019 17:02:16 | Dibaca: 111
Sumber: okezone.com(Industri Karet Sumut Terancam Bangkrut(Ilustrasi:Reuters))

Yunia Rohana

Bergabung: 22 Okt 2019
Bagikan:
Tanaman karet merupakan salah satu komoditas terkenal dari Indonesia. Tanaman ini membutuhkan tanah yang padat dan subur untuk menghasilkan getah atau lateks. Daerah yang paling banyak memiliki lahan untuk penanaman pohon karet adalah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Riau dan berbagai kawasan di luar pulau Jawa. Karet menjadi salah satu bahan yang paling banyak dibutuhkan dalam industri dan dapat menjadi berbagai jenis produk yang lebih bermanfaat. Pohon karet menjadi bahan baku dalam pembuatan karet yang dibuat dari getah pohon karet. Getah karet juga digunakan dalam industri manufaktur ban, sarung tangan karet, benang karet, alas kaki, sarung tangan medis, dan alat-alat lain. Bahkan saat ini pemerintah sedang melaksanakan proyek pembangunan aspal dengan menggunakan karet sebagai salah satu bahan bakunya. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan serapan karet domestik. Indonesia sebagai salah satu produsen dan eksportir karet alam terbesar di dunia yang menempati posisi kedua setelah Thailand namun proporsi antara ekspor dengan konsumsi sangat jauh berbeda. Karet yang dihasilkan di Indonesia kebanyakan diekspor dibandingkan dikonsumsi untuk domestik.

Di Indonesia, kebanyakan produksi karet berasal dari pulau Sumatera dan salah satunya adalah provinsi Sumatera Utara. Di Sumut, karet menjadi komoditas unggulan dan memberikan kontribusi cukup besar dalam total ekspor Sumatera Utara. Sejak tahun 2015, produksi karet di Sumatera Utara selalu mengalami peningkatan hingga mengalami penurunan pada tahun 2019. Hal ini dikarenakan oleh penyakit gugur daun karet yang disebabkan cendawan (jamur) Pestalotiosis yang menyebabkan produksi karet menurun pada tahun 2019 seperti yang dimuat dalam berita Republika.co.id dalam judul "Produksi karet Indonesia diproyeksi turun 15 persen" yang berdampak pula pada produksi karet di Sumatera Utara.
     
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan, pada tahun 2017, Sumatera Utara memproduksi karet sebesar 460.901 ton dengan total luas lahan karet sebesar 449.519 Ha dan mengalami penurunan produksi sebesar 1,68018% pada tahun 2019 dengan total luas lahan yang meningkat sebesar 451.354 Ha. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas karet menurun di Sumatera Utara. Hasil produksi karet ini didominasi dari perkebunan rakyat sebesar 311.099 ton dengan total luas lahan 393.198 Ha. Dan wilayah yang menghasilkan karet terbesar ada di wilayah Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Langkat, dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan. 
      
Penurunan hasil produksi karet di Sumatera Utara membuat ekspor karet ikut menurun dibanding tahun sebelumnya (2018). Menurut data BPS, ekspor karet dan barang dari karet pada periode Januari-Juli 2019 bila dibandingkan Januari-Juli 2018 mengalami penurunan sebesar US$87,34 juta (-12,16%). Namun, jika dibandingkan antara Juli 2019 terhadap Juni 2019 ekspor karet di Sumatera Utara mengalami kenaikan sebesar US$ 260 ribu (97,69%). Karet dan barang dari karet termasuk dalam 10 golongan barang (HS 2 digit) dan selama Januari-Juli 2019, ekspor karet dan barang dari karet mampu memberikan kontribusi sebesar 14,23% terhadap total ekspor Sumatera Utara yang merupakan kontribusi terbesar kedua setelah golongan lemak dan minyak hewan/nabati.
     
Menurut ketua umum Gapkindo, pada tahun 2018 terjadi sedikit penurunan produksi terhadap tahun 2017 dan mengira itu hanya seasonal saja, namun pada tahun 2019 di semester pertama anggota gapkindo mengalami kekurangan bahan baku yang ternyata akibat dari penyakit pestalotiosis. Pestalotiosis menurut para ahli merupakan pemyakit yang lebih serius dan membuat gugur daun lebih lama dan membuat produksi getah karet menurun. Hal ini dikarenakan ketidakmampuan para petani, akibat harga internasional sudah tertekan sekian tahun lamanya sehingga memberatkan para petani dan ketidakmampuan para petani dalam memelihara dan menjaga pohon karet nya sehingga pohonnya rentan.
    
Harga karet yang turun sehingga membuat pendapatan petani karet menurun dan akhirnya berdampak pada produksi karet, pemerintah tengah berupaya untuk melakukan peremajaan tanaman karet yang sudah menua dan tidak lagi produktif. Salah satunya adalah program BUN500. BUN500 merupakan program penyediaan benih tanaman perkebunan sebanyak 500.000.000 benih pada tahun anggaran 2019-2024. BUN500 ini sendiri akan fokus pada 8 komoditas unggulan, yaitu kopi, kakao, karet, lada, pala, cengkeh, tebu, dan kelapa. Benih unggul komoditas perkebunan yang dikemas dalam program BUN500 ini nantinya akan digunakan untuk meremajakan tanaman yang sudah tua, merehabilitasi tanaman dan perluasan tanaman perkebunan di sentra-sentra perkebunan. Untuk tanaman karet sendiri, benih karet akan dialokasikan untuk peremajaan di sentra produksi karet, diantaranya Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah. 
     
Dengan adanya program ini diharapkan dapat mendongkrak produksi karet di Indonesia terutama di Sumatera Utara sehingga komoditas karet dapat terus menjadi komoditas unggulan yang memberikan kontribusi yang besar terhadap total ekspor di Sumatera Utara dan berdampak positif dalam peningkatan serapan karet domestik.

Beri Nilai:

Nilai: 0

Komentar: 0

Anda harus login terlebih dahulu untuk memberi komentar
Tentang Kami Syarat dan Ketentuan